Mirja Saputra

1. PERMASALAHAN

Penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan pelajar saat ini hampir sudah tidak ada yang menggunakannya dengan benar. Malah sedikit sekali pelajar yang menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar.

Kesalahan berbahasa itu bisa terjadi disebabkan oleh kemampuan pemahaman pelajar atau pembelajar bahasa masih kurang. Artinya, siswa memang belum memahami sistem bahasa yang digunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara sistematis. Kesalahan jenis ini dapat berlangsung lama bila tidak diperbaiki. Perbaikannya biasanya dilakukan oleh guru. Misalnya, melalui pengajaran remidial, pelatihan, praktik, dan sebagainya. Kadangkala sering dikatakan bahwa kesalahan merupakan gambaran terhadap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang sedang dipelajari. Bila tahap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang dipelajari ternyata kurang, kesalahan akan sering terjadi. Kesalahan akan berkurang bila tahap pemahamannya semakin baik.

2. BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

A. Bahasa Indonesia yang Baik

Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, di pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang santai dan akrab yang tidak terlalu terikat oleh patokan. Dalam situasi resmi, seperti dalam kuliah, dalam seminar, dalam sidang DPR, dan dalam pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi, yang selalu memperhatikan norma bahasa.

B. Bahasa Indonesia yang Benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah atau aturan bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa Indonesia itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata diperhatikan dengan saksama, dan penataan penalaran ditaati dengan konsisten, pemakaian bahasa Indonesia dikatakan benar. Sebaliknya, jika kaidah-kaidah bahasa itu kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar.
C. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pemakaian lafal daerah, seperti lafal bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak dalam berbahasa Indonesia pada situasi resmi sebaiknya dikurangi. Kata memuaskan yang diucapkan memuasken bukanlah lafal bahasa Indonesia.
Pemakaian lafal asing sama saja salahnya dengan pemakaian lafal daerah. Ada orang yang sudah biasa mengucapkan kata logis  dan sosiologi menjadi lohis dan sosiolohi. Jika demikian, bagaimana dengan kata gigi? Apa dilafalkan hihi?

3. Contoh Penggunaan Bahasa Indonesia  Yang Salah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

A. Kesalahan Penggunaan Bahasa Dalam Tulisan

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui beberapa contoh penggunaan tata bahasa Indonesia yang salah. Penggunaan tanda baca, kosa kata, dan sebagainya pada spanduk, voucher, baliho dan sebagaianya sering terdapat kesalahan. Meskipun hal tersebut dianggap sepele, namun tentu itu melenceng dari kaedah asli bahasa Indonesia. Disini penulis akan mencoba memaparkan beberapa contoh penggunaan bahasa yang salah dan bagaimana penggunaan bahasa yang seharusnya. Beberapa contoh penggunaan tata bahasa yang salah.

1.      Penulisan harga sering mengalami kesalahan, banyak yang menuliskan Rp. 5.000. padahal seharusnya Rp5.000,00.

2.      Penggunaan tanda (sampai dengan) sering disingkat menjadi s/d namun seharusnya adalah s.d.
Contoh Penggunaan Bahasa Indonesia  Yang Salah dapat dilihat dari beberapa gambar  yang dilampirkan dibawah ini.







B. Kesalahan Penggunaan Bahasa Dalam Lisan

·         Sampai saat ini pelafalan angka memang cukup bervariasi. Tahun 1989, misalnya, ada yang melafalkan dengan [satu-sembilan-delapan-sembilan] atau angka demi angka, tetapi ada pula yang melafalkannya dengan [sembilan belas-delapan sembilan]. Di samping itu, juga tidak sedikit yang melafalkannya dengan [seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan]. Dari berbagai variasi itu, pelafalan yang dipandang resmi adalah yang terakhir, yaitu seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan. Pelafalan itu pulalah yang sebaiknya digunakan, sedangkan dua pelafalan lainnya dipandang tidak baku.

·         Angka 0 berarti ‘kosong’ atau ‘tidak ada apa-apanya’. Dalam bahasa kita pelafalan angka itu yang sebaiknya digunakan adalah [nol], bukan [kosong]. Misalnya, nomor telepon 306039 dilafalkan dengan [tiga-nol-enam-nol-tiga-sembilan], bukan [tiga-kosong-enam-kosong-tiga-sembilan]. Pelafalan angka 0 dengan [kosong] kemungkinan dipengaruhi oleh bahasa Inggris zero, yang dalam bahasa kita memang sering diterjemahkan dengan kosong.

·         Kata energi sering dilafalkan dengan  [energi], [enerkhi], dan [enerji]. Kata energi dalam bahasa Indonesia diserap dari kata asing energie (Belanda) atau energy (Inggris). Sesuai dengan nama huruf di dalam abjad bahasa Indonesia, huruf  tetap dilafalkan dengan [g], bukan [kh] atau [j], begitu pula halnya dengan huruf yang terdapat pada kata energi. Oleh karena itu, pelafalan yang baku untuk kata energi adalah [energi], bukan [enerkhi] atau [enerji].