Mirja Saputra
KESEJAHTERAAN HIDUP ATLET
BERPRESTASI DI INDONESIA
Oleh
Mirja
Saputra
1206104020025
Universitas
Syiah Kuala
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Darussalam,
Banda Aceh
2014
KESEJAHTERAAN HIDUP ATLET BERPRESTASI
DI INDONESIA
Salah
satu pencitraan sebuah negara kini tidak hanya dilihat dari kesejahteraan,
pendidikan, ekonomi, dan kekuatan militer. Olahraga pun menjadi sebuah
pencitraan manis tentang bagaimana masyarakat dunia memandang sebuah negara.
Sebuah pertanyaan besar akan penyebab kondisi keterpurukkan olahraga Indonesia
agaknya sering terlontar dari benak pemuda-pemuda bangsa yang berniat untuk
memajukan Indonesia.
Pada
dasarnya banyak hal yang menyebabkan
keterpurukan kondisi olahraga Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika di
beberapa daerah, minimnya fasilitas latihan serta pendanaan masih menjadi
masalah klasik yang menghantui pembinaan-pembinaan olahraga.
Sejenak
yang terlintas dipikiran kita saat kita mendengar kata ‘olahraga’ adalah
atlet. Atlet yang yang profosional dalam suatu cabang olahraga tentunya harus
rela mengorbankan waktunya demi membela negara dan bangsanya.
Untuk
menjadi seorang atlet sangatlah susah, harus mempunyai bakat dan minat dalam
sebuah bidang olahraga tentunya harus memiliki latar belakang pendidikan yang
baik yang bisa mendukung ia dalam membentuk sebuah prestasi dalam bidang
olahraga tersebut. Tetapi banyak juga atlet yang tidak memiliki latar
pendidikan yang baik, namun mempunyai bakat yang sangat bagus.
Sebagai
warga negara indonesia, kita patut berbangga akan prestasi-prestasi yang telah
dicapai oleh para atlet di negara ini yang telah mempertaruhkan hidupnya untuk
membela dan mengharumkan nama negara ini. Tetapi sayang masih banyak para mantan
atlet indonesia yang tidak memeliki kehidupan yang sejahtera setelah pensiun,
yang pada kenyataannya bisa ditemukan dilingkungan sekitar. Sebagai manusia,
para mantan atlet juga membutuhkan hak untuk hidup yang sejahtera dimana
termasuk dalam Hak Asasi Manusia sebagaimana terdapat dalam pasal 28 ayat 1.
Tak
jarang seorang atlet lebih memikirkan materi dalam setiap tugasnya. Kondisi
tersebut tak sepenuhnya dapat disalahkan. Turunnya rasa nasionalisme atlet
untuk mengharumkan nama bangsa bisa jadi muncul akibat kekecewaan atlet
terhadap perilaku bangsanya sendiri yang tidak menghargai torehan prestasi
mereka.
Isu untuk meningkatkan kesejahteraan atlet
sebenarnya sudah digemborkan oleh Adhyaksa Dault pada tahun 2005 dengan program
1000 rumah bagi atlet berprestasi. Namun tetap saja isu tentang cara
menyejahteraankan atlet tetap jadi permasalahan.
Prestasi
olahraga indonesia sekarang juga sudah mulai merosot di mata dunia, jika hal
ini dibiarkan tanpa ada tindakan dari berbagai pihak yang terkait,
termasuk masyarakat indonesia, olahraga di indonesia akan mengalami kemunduran
dan hanya dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain. Hal ini dikarenakan
timbulnya berbagai masalah termasuk masalah yang berhubungan dengan atlet yang
dimiliki negara ini.
Berbicara
mengenai atlet, masih banyak para pensiunan atlet yang hidupnya kurang mendapat
perhatian dari pemerintah dengan kata lain hidup mereka tidak sejahtera. Jika
diingat-ingat mereka telah berjuang demi bangsa dan negara ini, namun apa
balasan dari pemerintah atas pengorbanan mereka?
Peribahasa
habis manis sepah dibuang pun menjadi
perasaan para atlet saat ini. Dilematika antara keinginan untuk mengibarkan
bendera indonesia di atas podium dengan permasalahan perut. Dalam setiap peluh
latihan mereka pun muncul kekhawatiran akan nasib masa depan mereka saat tak
mampu bersinar lagi.
Pertengahan
Februari, indonesia kehilangan bekas petinju terbaik tingkat amatir dan
profesional, Rachman Kilikili. Rachman ditemukan tewas gantung diri lantaran
stres tak kunjung beroleh pekerjaan. Tragedi Rachman hanya potret kecil naasnya
nasib atlet selepas masa jaya mereka. [kabarindonesia.com (maret 2007)
accesed nov 21, 2011]
Betapa
malangnya nasib dari atlet petinju, Rachman Kilikili. Dari kasus di atas
Rachman menjadi stres lantaran tidak mendapatkan perkerjaan sehingga ia nekat
untuk gantung diri, padahal kalau dilihat dari prestasinya, ia adalah seorang
petinju yang professional dan memiliki banyak penghargaan dimana dia bertarung
untuk mengharumkan nama Negara dan bangsa Indonesia. Masalah dan kasus yang
dialami oleh Rachman bukanlah yang pertama kali, masih banyak yang lebih tragis
dari dari masalah ini.
Dari
kasus tersebut bisa kita lihat kelalaian dari pemerintah dalam mensejahterakan
kehidupan para mantan atlet berprestasi. Banyak pertanyaan yang timbul dari
masyarakat apabila mereka mendegar masalah di atas, mengapa hal seperti itu
terjadi? Dimana peran pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut? Kita sebagai
warga Negara Indonesia juga harus bertindak untuk mengatasi masalah tersebut,
entah bagaimana caranya. Kita juga tidak boleh sepenuhnya menyalahkan
pemerintah, kita hanya butuh introspeksi diri masing-masing dan berpikir lebih
terang dan bijaksana bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.
"Mereka
hanya perhatikan atlet yang lagi dipakai. atlet yang sebelumnya, mereka tidak
pernah cari, tidak pernah perduli. Kadang kita juga merasa
sakit." [kabarindonesia.com (maret 2007) accesed nov 21, 2011].
Begitulah salah satu pendapat masyarakat tentang para mantan atlet yang tidak
dipedulikan lagi oleh permerintah.
Namun
pemerintah tetap bersikeras bahwa mereka telah melakukan hal yang bisa
mensejahterakan hidup para pensiunan atlet seperti yang dikatakan Menteri
Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan, untuk kesejahteraan atlet,
pemerintah akan mengupayakan dana jaminan hidup bagi mereka. "Kan ada
undang-undangnya tinggal diterjemahkan dalam bentuk anggaran kemudian diajukan
ke DPR, kita sekarang sedang mau melihat dan menata atlet-atlet yang
berprestasi, nanti bentuknya adalah jaminan
hidup." [kabarindonesia.com (maret 2007) accesed nov 21, 2011]. Hal
yang disampaikan oleh Adhyaksa Dault terbukti bahwa pemerintah hanya
memperhatikan atlet yang lagi dipakai saja. Lalu upaya apa saja yang sudah
dilakukan pemerintah untuk mengatasi para mantan atlet yang hidupnya
terombang-ambing karena tidak mendapatkan pekerjaan? Sejauh ini belum terlihat
upaya tersebut, pemerintah hanya bejanji dan berjanji namun tidak ada satu
upaya pun yang dilakukan.
Selain
kasus Rachman Kilikili, ada seorang mantan atlet balap sepeda,
Suharto peraih medali emas Sea Games 1979, kini harus rela berjuang hidup
sebagai pengayuh becak. pria yang kini berusia 59 tahun
itu, pernah meraih medali emas SEA Games nomor Team Time Trial (TTT) 1979 di
Kuala Lumpur, medali Perak Tour de ISSI 1977, perunggu pada ROC International
Cycling Invitation di China 1977, medali emas Wali Kota Jakarta Utara Cup,
perak PON IX/1977 dan sejumlah balapan tingkat nasional
lainnya. [sosok.kompasiana.com (nov 10, 2011) accesed nov 21, 2011].
Orang-orang yang membaca artikel tersebut pasti sangat terkejut dengan berita
yang ada, bagaimana tidak? Seorang atlet berprestasi bagi Negaranya dulu kini
hanya menjadi seorang pangayuh becak demi menghidupi kebutuhan hidupnya.
Kembali lagi kepada upaya pemerintah, apa yang harus mereka lakukan?
Peran
pemerintah sangat sedikit dan hampir tidak terlihat sama sekali, justru dari
pihak-pihak swasta yang lebih menonjol upayanya dalam memperhatikan para mantan
atlet yang hidupnya kurang beruntung seperti Yayasan Olahragawan Indonesia
(YOI). pihak-pihak seperti inilah yang akan memberikan perhatian lebih untuk
membantu kehidupan mantan olahragawan yang memprihatinkan di masa tuanya.
Untuk
itu kita perlu mendukung upaya-upaya yang dilakukan oleh yayasan-yayasan yang
sangat peduli terhadap mantan atlet yang terlantar hidupnya. Sebenarnya para
mantan atlet yang kehidupan masa pensiunnya memprihatinkan pun perlu
diberdayakan untuk kemajuan olahraga di Indonesia. Mereka dapat menjadi
pelatih, sehingga dapat menurunkan apa yang didapat dari pengalaman berkarir di
dunia olahraga, dan di lain sisi mereka juga dapat diberikan pembinaan dan
kesempatan untuk sukses di bidang lain. Kita cuma bisa berharap agar pemerintah
bisa lebih peduli terhadap para mantan atlet dan melakukan upaya-upaya yang
bisa mensejahterakan hidup mereka.
Nama
besar sebuah Negara tak hanya dilihat dari pendidikan, ekonomi, kesejahteraan,
dan militer. Nama besar sebuah Negara juga akan dilihat dari prestasi
olahraganya. Begitu juga dengan Indonesia. Mari berpikir secara menyeluruh.
Mulai saat ini, mari kita berpikir bersama memajukan olahraga Indonesia.


0 Comments
kritik dan saran saya harapkan, agar bisa menjadi motivasi bagi saya untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik ke depannya